Pemahaman Al-Qur’an Melalui Rasulullah (saw): 7hb Februari 2010

Rangkuman Suhbah Mawlana Shaykh Nazim

7hb Februari 2010

Pemahaman Al-Qur’an Melalui Rasulullah (saw)

Assalamu’alaikum wr.wb.

A’udzu billahi min-asy syaitan-ir rajim.

Bismillah-ir Rahman-ir Rahim.

  • Manusia berbeda dari binatang karena kemampuan pemahamannya. Manusia mempunyai kapasitas untuk maju dalam pemahaman, untuk menggali lebih dalam tentang misteri alam spiritual untuk mendekat pada Sang Ilahi; ini merupakan suatu hadiah yang tidak dimiliki oleh satu pun binatang. Tetapi ketika manusia hidup di dunia ini tanpa pemahaman akan misinya, arah dan tujuannya, dia berada pada tingkatan binatang; binatang juga merupakan makhluk yang tidak memiliki pemahaman.
  • Hadiah Ilahi yang berupa pemahaman inilah yang membuat manusia menjadi yang paling tinggi derajatnya di antara semua ciptaan-Nya. Jadi, berusahalah untuk lebih mengerti, karena Rasulullah (saw) berkata, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke dalam kubur.” Menuntut ilmu adalah pintu menuju harta karun pemahaman, dan pemahaman adalah pintu menuju pengangkatan spiritual dan kehormatan. Tanpa pemahaman, kita akan mandek di tingkatan binatang.
  • Jadi kita harus selalu berada dalam kondisi mencari atau menuntut ilmu dan pemahaman. Tidak ada batasan sampai dimana manusia dapat memahami. Setiap tingkatan baru yang kamu daki merupakan cakrawala baru yang mengandung kehormatan, maqam, pencerahan dan kekuatan yang tiada akhirnya. Dan ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang mencari dan berjuang untuk ilmu. Rasulullah (saw) sendiri diajarkan untuk berdoa, “Ya Allah, limpahkanlah padaku pengetahuan!” Semakin besar pengetahuanmu tentang Allah, semakin tinggi kehormatanmu!
  • Sayangnya, pada zaman sekarang ini, walaupun belajar, banyak muslim yang tidak memiliki pemahaman. Mengapa? Mereka menuntut ilmu, tetapi mereka menganggap remeh Rasulullah (saw), menolak fakta bahwa beliau adalah Pintu menuju pemahaman, Pintu menuju Allah. Mereka berkata bahwa Rasulullah (saw) hanya membawa pengetahuan, dan sekarang beliau telah meninggal, beliau tidak lagi menjadi bagian dari persamaan. “Terlebih lagi Al-Qur’an sudah ada,” kata mereka, “mengapa kita masih harus menghormati Rasulullah (saw)?” Mereka ini adalah para pengikut syaitan. Mereka sangatlah keliru jika mereka mengira bahwa mereka dapat memahami Al-Qur’an tanpa Rasulullah (saw).
  • Jika Rasulullah (saw) tidak penting dalam pengajaran agama, Allah bisa saja menurunkan Al-Qur’an pada sebuah tempat suci dan berkata pada manusia, “Buku ini berisikan pesan terakhir bagi umat manusia! Baca dan pahamilah!” dan itu mungkin sudah cukup bagi manusia, untuk dibaca, untuk diamalkan dan untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi Allah menyampaikan pesan terakhirnya melalui Utusan Terakhir (saw), jadi kita harus mengakui peranan yang dimainkan oleh Rasulullah (saw). Seseorang bisa saja membaca Al-Qur’an, tetapi pemahaman yang terkandung di dalamnya hanya dapat dimengerti melalui Rasulullah (saw).
  • Rasulullah (saw) diajarkan tentang Al-Qur’an oleh Allah, lalu Rasulullah (saw) mengajarkan Al-Qur’an pada umatnya. Bagaimana mungkin beberapa muslim bersikap kurang ajar dengan tidak menganggap Rasulullah (saw) dan meremehkan posisinya sebagai Sang Nabi, yang diajarkan oleh Yang Maha Pengasih?

(Allah) yang Maha Pemurah! Dialah yang telah mengajarkan Al Qur’an. (Surah Ar-Rahman 55:1-2)

  • Tanpa Rasulullah (saw), kita tidak akan memahami apa-apa! Dalam jangka waktu 23 tahun, Allah mengajarkan Rasulullah (saw) pengetahuan-pengetahuan mengenai Al-Qur’an. Rasulullah (saw) diberikan pemahaman terhadap Al-Qur’an yang suci secara bertahap. Mengapa dibutuhkan waktu 23 tahun bagi sang ciptaan yang terbaik untuk mempelajari Al-Qur’an? Padahal Allah memiliki kekuatan untuk menganugerahkan pengetahuan dan pemahaman tersebut dalam sekejap! Mawlana bertanya, “Mengapa kita makan beberapa kali dengan porsi secukupnya dalam sehari, mengapa tidak makan seratus ton makanan dalam sekali makan? Itu karena kita membutuhkan waktu untuk mencerna makanan dalam jumlah kecil dalam satu waktu, agar dapat menghasilkan energy. Sama halnya dengan pengetahuan, kita membutuhkan waktu untuk mencerna sedikit pengetahuan dalam satu waktu, agar menghasilkan pemahaman! Rasulullah (saw) sendiri, dibawah pengawasan Allah (swt), membutuhkan waktu 23 tahun untuk dapat mencerna seluruh Al-Qur’an secara bertahap, untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang Al-Qur’an. Bagaimana mungkin ada di antara kita berharap dapat memperoleh pemahaman yang bahkan sedikit tanpa kesabaran dan bimbingan? Hanya orang yang nekat yang terburu-buru dalam perjalanan ini, tanpa penunjuk jalan!
  • Jangan mencoba mencerna seratus ton makanan dalam satu waktu – itu mustahil. Bersabarlah! Ikutilah seorang pembimbing surgawi (guru spiritual/murshid), dan seiring perjalanan kita menuntut ilmu, pemahaman akan tumbuh di dalam diri kita, dan Allah akan memberkati kita dengan cahaya-cahaya surgawi di dalam jiwa. Dan setiap kali kita memperoleh kemajuan dalam pemahaman, akan lebih banyak cahaya yang diberikan kepada kita. Setiap kali kita mencapai cakrawala yang baru, cakrawala yang lain muncul! Mawlana berkata bahwa kita dapat melihat cahaya-cahaya ini pada wajah orang-orang yang diberkahi dengan pemahaman yang dalam. Jangan menginginkan umur panjang hanya untuk makan dan minum, karena itu untuk binatang. Inginkanlah umur yang panjang agar pemahaman kita dapat terus meningkat, karena untuk setiap tingkatan yang kita daki, Allah akan membukakan samudera cahaya dan kehormatan yang baru bagi kita. Sangatlah menyedihkan jika mengingat bahwa orang-orang di generasi sekarang ini hanya sekedar pemimpi; mereka tidak menganggap serius agama mereka, mereka mengira bahwa mereka dapat mengerti Islam tanpa seorang pembimbing atau penunjuk jalan.
  • Dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berkata, “Aku adalah Harta Tersembunyi.” Siapakah yang mengerti rahasia-rahasia Harta tersebut? Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Surah Al-Baqarah 2:30)
  • Mawlana berkata bahwa dalam ayat ini, Allah menyebutkan kata ‘khalifah’ dalam bentuk tunggal dari kata tersebut. Jadi Wakil Terpilih yang dimaksud di sini adalah Rasulullah (saw), Yang Paling Dicintai Allah, yang merupakan satu-satunya orang yang diajarkan Al-Qur’an oleh Allah, dan yang merupakan satu-satunya orang yang diberikan kilasan tentang Harta Tersembunyi itu. Allah adalah Ahadun Ahad, Dia adalah Yang Satu dan Unik, dan hanya ada satu Khalifah Terpilih, tidak pernah ada yang kedua.
  • Iblis mengira bahwa dia bisa menjadi Khalifah Terpilih itu, tetapi pemahamannya jika dibandingkan dengan pemahaman Rasulullah (saw) adalah seperti kepala peniti dibandingkan dengan samudera! Penerima gelar Khalifah telah dipilih dan dianugerahkan olah Allah bahkan sebelum ciptaan diciptakan; itu bukanlah sebuah maqam yang dapat dicapai dengan usaha – itu merupakan Ketentuan Ilahi, yang akan berlaku selamanya! Tetapi iblis tidak mengerti hal ini; dia tidak memiliki pemahaman.
  • Jadi janganlah seperti syaitan, menolak Rasulullah (saw). Berhentilah menyebarkan keyakinan yang menyimpang, bahwa seseorang dapat memahami Al-Qur’an sendiri, tanpa mengikuti Rasulullah (saw), dan tanpa memiliki seorang penunjuk jalan/pembimbing yang merupakan utusan Allah juga. Sangatlah banyak doktor dalam Islam yang memiliki PhD, mempelajari Islam dari universitas-universitas non-Islam, dari dosen-dosen biasa. Dan setelah mereka menulis skripsi mengenai Islam, mereka yakin bahwa mereka telah mencapai puncaknya pengetahuan. Pada kenyataannya, mereka, sebagaimana iblis, tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman apa pun. Betapa kasihannya!
  • Samudera Islam sangatlah dalam. Untuk menyelami samudera tersebut tanpa kesetiaan pada Rasulullah (saw), tanpa mengikuti seorang penuntun yang telah menjalani jalur ini sebelumnya, sangatlah fatal. Kita akan tenggelam ke dalam lautan itu dan mungkin tidak akan pernah muncul lagi ke permukaan. Jadi, jangan pernah berkata bahwa kita dapat melaluinya sendiri. Tidak! Sebaliknya, katakanlah dengan kerendahan hati, Robbi zidni ‘ilma – “Ya Allah, tambahlah pengetahuanku!”

Fatiha.


This entry was posted in 2010 @id, Februari, Suhbah @id. Bookmark the permalink.