Kembalilah Kepada-Nya Sebagai Seorang Hamba, dan Ia Akan Memuliakanmu Bagaikan Seorang Raja: 14hb Oktober 2010

Ringkasan suhbah Harian Maulana Syaikh Nazim

14 Oktober 2010

Kembalilah Kepada-Nya Sebagai Seorang Hamba, dan Ia Akan Memuliakanmu Bagaikan Seorang Raja

A’uzubillah himinasyaitan nirrajeem
Bismillahir Rahman-nir Rahiim
Assalamu’alaikum wrwb.

  • Maulana mengawali Suhbah dengan membaca Bismillahir Rahman-nir Rahiim, dan menganjurkan kita untuk selalu membacanya dengan penuh harap (agar diselamatkan dari api neraka) dan dengan ketenangan hati karena keyakinan kita bahwa dengan membaca kalimat tersebut akan mampu menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Kita telah mendapatkan karunia terbesar melalui Bismillahir Rahman-nir Rahiim, karunia yang dianugerahkan kepada Umat Penutup para Nabi (saw), tapi kita belum memahami kekuatan/kehebatan sesungguhnya dari kalimat tersebut. Manusia adalah makhluk yang lalai dan acuh. Nabi Sulaiman (as) mulai Surat yang ditujukan kepada Ratu Balqis sebagai berikut:

إِنَّهُ ۥ مِن سُلَيۡمَـٰنَ وَإِنَّهُ ۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu dari Nabi Sulaiman dan kandungannya (seperti berikut): Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani, (Surah An-Naml 27:30)

  • Kita adalah mahluk yang lemah, dan kita semua ingin menjadi lebih kuat dan lebih mulia (dalam iman), dan diampuni (oleh Allah) dan menjadi salah satu hamba yang terbaik (di hadapan-Nya). Jika memang itu yang kita inginkan, maka bacalah Bismillahir Rahman-nir Rahiim, minimal 100 kali sehari.
  • Setiap kali kalian merasa terancam oleh suatu situasi atau masalah di dunia ini, atau jika kalian dibebani oleh pikiran atau khawatir tentang akhirat? Bacalah Bismillahir Rahman-nir Raheem, maka kalian akan ditempatkan di bawah Naungan dan berada didalam Perlindungan-Nya.
  • Maulana mengatakan jika beliau berusaha untuk berbicara tentang segala rahasia pengetahuan, rahasia kekuatan dan karunia tersembunyi yang terkandung didalam Bismillahir Rahman-nir Rahiim, beliau tidak akan mampu untuk menyelesaikannya, bahkan jika beliau memulainya ketika Allah memulai penciptaan alam semesta hingga akhir waktu. Karena begitu banyak anugerah yang Allah berikan kepada Rasulullah (saw) untuk kita Umatnya yang terkandung didalam Bismillahir Rahman-nir Rahiim! Al-Quran berisi pelajaran yang tak terhitung jumlahnya, dan pelajaran tersebut akan memimpin kita kepada karunia Ilahi berupa kemulian dari Surga yang tiada akhirnya.
  • Maulana mengungkapkan satu rahasia. Bahwa dengan membacakan Bismillahir Rahman-nir Rahiim pada makanan disaat kita mulai menyantap makan, akan mengubah makanan yang akan kita santap tadi menjadi cahaya (Noor) didalam tubuh kita dan Allah akan memberkahinya! Bismillahir Rahman-nir Raheem adalah pintu keselamatan dan kenikmatan, itulah sebabnya mengapa syaitan bekerja keras untuk membuat kita lalai untuk membaca Bismillahir Rahman-nir Rahiim untuk mengawali semua kegiatan yang akan kita lakukan, terutama saat kita makan. Syaitan benci melihat Manusia berada didalam keselamatan, kenikmatan ataupun kebahagiaan.
  • Al-Quran menyentuh soal Singgasana Nabi Sulaiman (as). Singgahsana tersebut bukanlah singgahsana biasa yang diduduki oleh sembarang Raja, singgahsana tersebut adalah singgahsana surgawi. Apa yang membuat singgahsana ini begitu khusus? Kemuliaan sebuah singgahsana ditentukan dari nilai seseorang yang duduk di atasnya. Dan nilai dari orang terebut diukur (menurut ukuran ketetapan Ilahi) berdasarkan seberapa besar penghambaannya kepada Allah SWT selama hidupnya. Sebuah singgahsana yang diduduki oleh seorang Raja yang zalim dan kejam tidak memiliki nilai dihadapan Ilahi, tidak ada kemuliaan untuk duduk di atasnya, dan hanya memberikan tanggung jawab/beban bagi orang yang duduk di atasnya. Tetapi singgahsana, dimana duduk seorang hamba yang rendah hati dan taat kepada Allah, menjadikan singgahsana tersebut singgahsana yang suci, terhormat, diberkahi, bercahaya, dimuliakan dan penuh dengan keagungan!
  • Maulana kemudian berbicara mengenai Raja-raja (duniawi) dan para pengikut Wahabi yang merasa cemburu ketika mereka melihat orang-orang mencintai dan memuliakan Rasulullah (saw). Mereka adalah orang-orang yang memiliki penyakit kecemburuan didalam hati, dan siapapun yang memiliki penyakit hati terhadap Nabi Muhammad (saw), tidak memiliki keimanan! Para pengikut Wahhabi bermuka masam kepada mereka yang berdiri untuk menghormati Rasulullah (saw), kepada mereka yang melakukan salawat atas beliau dan juga kepada mereka yang memuliakan beliau. Mengapa? Maulana mengatakan bahwa para pengikut Wahabi harus menyadari, bahwa jika Allah sendiri memuliakan Rasulullah (saw) maka mengapa kita tidak boleh ikut memuliakan beliau?

عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا

Semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji. (Surah Al-Isra' 17:79)

  • Maulana mengatakan, beliau merasa malu untuk menyebut Rasulullah (saw) sebagai seorang hamba (meskipun sememangnya Nabi kita adalah seorang hamba yang paling mulia, dan beliau adalah puncak kesempurnaan dalam penghambaan), sebagai rasa hormat yang teramat besar untuk Rasulullah (saw), Maulana lebih memilih untuk menyebut Rasulullah (saw) sebagai Khalifah (wakil) Allah, karena sesungguhnya beliaulah Khalifatullah yang disebutkan didalam Al Qur’an:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Surah Al-Baqarah 2:30)

  • Pada kenyataannya, hanya seorang Raja yang ditunjuk oleh ketetapan Ilahi yang boleh duduk di atas singgahsana. Dan sudah seharusnya Raja-raja duniawi dengan kerendahan hati duduk di kursi biasa yang ditempatkan di samping singgasana mereka, dan berkata, aku akan duduk di kursi biasa karena Singgahsana saya ini hanya untuk diduduki oleh Sang Nabi Penutup (saw). Itu adalah adab yang benar, kata Maulana.
  • Singgahsana Suci Nabi Sulaiman (as) dibangun oleh para jin, dan terbuat dari emas (yang bukan berasal dari bumi tetapi dari syurga), menjadikanya sebuah pemandangan yang ajaib. Siapapun yang melihatnya akan jatuh ketanah dan bersujud karena takjub. Allah menghiasi singgahsana tersebut beserta yang duduk di atasnya dengan keagungan, kemuliaan dan kebesaran, sehingga siapapun yang melihat melihat Nabi Sulaiman (as) akan terpesona oleh keagungan penampilannya. Tidak ada seorang pun dihadapan mahkamahnya mampu mengangkat kepalanya dan melihat Nabi Sulaiman (as)! Allah menghiasi Nabi Sulaiman (as) dengan satu titik dari Kebesaran, Keperkasaan, Kemuliaan dan Keagungan-Nya – sifat-sifat yang diperlukan oleh Sulaiman (as) untuk memerintah golongan manusia, hewan, jin dan syaitan.
  • Apakah Allah hanya memiliki satu singgahsana untuk Nabi-nabi Nya? Tentu saja tidak. Rasulullah, Nabi (saw) kita tercinta juga memiliki satu singgahsana. Tapi kenapa Rasulullah (saw) tidak diutus beserta singgasananya? Yang pastinya singgahsana Rasulullah (saw) jauh lebih agung dan mulia! Rasulullah (saw) tidak menginginkan singgahsana, beliau berkata, “Aku ingin duduk sebagaimana seorang hamba duduk, dan aku makan sebagaimana seorang hamba makan.” Subhanallah! Ada begitu banyak pelajaran yang tersembunyi didalam jawaban ini. Mengapa Rasulullah (saw) menolak singgahsana yang mampu memukau dan mempesona dunia?
  • Rasulullah (saw) telah diperlihatkan bahwa umat beliau akan dipenuhi dengan orang-orang yang menginginkan kemasyhuran, kemuliaan, kemewahan, keagungan, keperkasaan dan kekuasaan. Beliau ingin menunjukkan contoh kehambaan bagi umatnya dengan menolak singgahsana tersebut dan hidup sederhana dan dengan adab (perilaku) yang sempurna. Beliau ingin menunjukkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh bangga memiliki sesuatu di Dunia ini, baik itu pakaian bagus, perabotan mahal, istana, mobil mewah atau barang-barang bermerek/berjenama. Kehormatan tidak datang dari itu semua. Kehormatan dan kemulian datang dengan menghambakan diri kepada Allah! Jadi beliau menunjukkan kita contoh terbaik untuk mejadi seorang hamba, dengan duduk, makan, berjalan, dan hidup sebagai seorang hamba. Pesan Nabi adalah, “Janganlah mencari kemuliaan, keagungan, kekuatan dan kehormatan melalui singgahsana (dunia). Itu semua adalah pemberian Allah untuk hamba-hamba Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan ketetapan Ilahi.” Nabi (saw) mengajarkan kita untuk mengatakan, saya bukanlah siapa-siapa kecuali seorang hamba yang lemah.
  • Rasulullah (saw) mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang yang diterima di hadirat Ilahi. Tetapi Syaitan mengajarkan kita untuk menjadi sombong. Mengajarkan manusia untuk bangga dengan apa yang ia miliki dengan bertujuan agar orang-orang memperhatikan dirinya. Syaitan membujuk manusia untuk duduk di atas singgahsana agar dapat dilihat!? Diracuni oleh bujukan Syaitan, manusia kemudian berkata: “Jika saya menemukan singgahsana untuk diduduki, aku akan pasti mendudukinya!”
  • Jika Rasulullah (saw) menunjukkan kita posisinya sebagai seorang yang terhormat, berdasarkan keutamaannya memiliki perabotan yang megah (singgasana), maka umat beliau akan mendedikasikan hidup mereka untuk mendapatkan pakaian dan perhiasan dunia yang terbaik. Pada akhirnya, Maulana mengatakan, kita akan menjadi bangsa Fir’aun dan Namrud duduk di atas singgahsana kita masing-masing, menjadi orang yang kejam. Mengapa bisa demikian? Karena, sebagaimana disebutkan dalam suhbah sebelumnya, jauh di dalam hati setiap manusia, terdapat keinginan untuk disembah oleh seluruh ciptaan. Keinginan, untuk menjadi pemimpin yang disembah/dipuja, menjadi pemimpin yang kejam dan egois, itu adalah keinginan tertinggi nafsu (ego) kita! Ini adalah penyakit yang telah menguasai dunia.
  • Hanya ada dua kategori didalam kehidupan ini. Ada Sang Pencipta dan ada ciptaan (hamba). Karena kalian bukan Sang Pencipta, pastinya kalian adalah ciptaan, sang hamba! Jika kalian tidak berperilaku sebagai seorang hamba, berarti kalian telah bertindak bagaikan Sang Pencipta! Allah tidak senang dengan orang-orang yang berperilaku seperti itu? Allah tidak memiliki sekutu. Jadi yang ada hanyalah perhambaan, tidak ada kategori lain untuk kita kecuali sebagai hamba.
  • Maulana mengatakan, jika kita hidup di Dunia ini sebagai seorang hamba selama tiga hari, maka nantinya di kehidupan selanjutnya yang kekal, Allah akan menhadiahkan kita singgahsana dan Istana yang megah dan menempatkan kita di dalamnya. Tetapi selama kita di Dunia, jadilah hamba-Nya yang rendah hati. Kembalilah kepada-Nya sebagai hamba, dan Ia akan menganugerahkan kepada kita kehormatan dan kemuliaan tanpa akhir! Janganlah kembali kepada-Nya sebagai seorang Raja, tetapi sebagai seorang hamba!
  • Kesimpulannya, Maulana mengulangi permohonan beliau seperti di dalam suhbah sebelumnya kepada para Ulama Wahhabi-fundamentalis yang berpusat di negara-negara Barat untuk kembali pulang ke Negara mereka masing-masing. Maulana mengatakan, cara mereka yang ekstrim, agresif, penuh dengan kekerasan dan kritis adalah contoh terburuk dari seorang Muslim yang dilihat oleh dunia Barat. Yang terbaik untuk mereka adalah kembali dan belajar untuk memperbaiki perilaku mereka, Nabi (saw) tidak menyebarkan agama dengan perilaku memualkan seperti itu. Rasulullah berkata, “Tuhanku mengajariku perilaku yang baik dan menyempurnakannya”.

Fatihah.

Komentar

  • Ajarkan anak kita untuk membaca Bismillahir Rahman-nir Rahiim sejak kecil dan melatih mereka (dan diri kita sendiri) untuk memulai setiap tindakan/perbuatan dengan Bismillahir Rahman-nir Rahiim.
  • Merenungkan isi Al Quran dan mengambil pelajaran darinya. Karena setiap pelajaran yang terkandung di dalamnya, adalah pintu menuju kemuliaan.
  • Raja-raja harus ditunjuk/dipilih berdasarkan ketetapan Ilahi, hanya dengan begitulah kemudian mereka dapat duduk di atas singgahsana mereka.

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰٓ إِذۡ قَالُواْ لِنَبِىٍّ۬ لَّهُمُ ٱبۡعَثۡ لَنَا مَلِڪً۬ا نُّقَـٰتِلۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۖ

Tidakkah engkau ketahui (wahai Muhammad), tentang (kisah) ketua-ketua dari Bani lsrail sesudah (wafatnya) Nabi Musa, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: Lantiklah seorang raja untuk kami supaya boleh kami berperang (bersama-sama dengannya) pada jalan Allah. (Surah Al-Baqarah 2:246)

  • Hati manusia adalah singgahsana Ilahi (Arshullah). Janganlah meletak kan pencuri (iblis) di singgahsana itu(iaitu dalam hati, sebagai pembimbing), dia akan mencuri seluruh harta syurgawi kepunyaan kita, bagaimana penguasa2 zalim menceroboh baitul mal dan mengambil harta negeri tanpa segan dan silu. Jangan meletak ahli dunia (ego/nafsu) di singgahsana itu, dia akan membimbing kitake arah menjadi Fir’aun dan akan habiskan hidup kita mencari dunia ini. Dalam Ayat Quran di atas, Bani Israel berdoa, “Lantiklah seorang raja untuk kami supaya boleh kami berperang (bersama-sama dengannya) pada jalan Allah.” maka itu bermakna, mohon dari Allah supaya Dia mengirim seorang yg menjadi wakil Allah (Sadiqeen, warisatul Anbiya) yang akan membimbing kita di atas jalan (Tariqah) perhambaan (ubudiyyah), dan dengan pertolongannya serta bimbingannya, kita dapat memerangi kekotoran dan najis yang di bawa oleh shaitan, nafsu, ego dan dunia, dan tetap berada di atas jalan mereka yang berjuang di jalan Allah (jihadun nafs).
  • Maulana menyebutkan bahwa jadilah seorang hamba selama ‘tiga hari’, yang merupakan refleksi dari kehidupan kita di dunia ini, yaitu, kemarin (yang telah berlalu dan tidak akan pernah kembali, yang dipenuhi dengan penyesalan), hari ini (saat ini, yang harus dilalui dengan kehambaan yang mutlak) dan esok (ketidakpastian dan kematian yang bisa datang pada bila bila saat) .
  • Kembalilah kepada-Nya, hiasi dirimu dengan kehambaan kepada-Nya, dan Ia akan menghiasimu bagaikan seorang Raja, untuk selamanya.

(Kami ingin menyambut ahli terbaru kami dalam pasukan SufiHub, dia adalah seorang sukarelawan yang bekerja kerana mencintai Shaykh kami. Salinan ini adalah usaha beliau, kami memohon doa dan Fatiha atas usahanya yg sangat mulia ini. Kami masih mencari sukarelawan2 atau sesiapa yg mahu bekerja untuk mengalih bahasa bersama SufiHub.)

Maulana Syaikh Nazim mengajar setiap hari pada jam 1 pagi WIB, sila ke lelaman www.Saltanat.org untuk mengikuti pelajaran beliau. Maulana mengajar dalam Bahasa Inggeris, tetapi alih bahasa di siapkan dalam Bahasa Melayu/Indonesia. Salinan ringkasan terdapat di lelaman Naqshbandi Singapura, recent.sufihub.com.


This entry was posted in 2010 @id, Oktober and tagged , , , . Bookmark the permalink.