Ikan tidak akan pernah menjadi lebih besar dari Samudera: 23hb Februari 2010

Rangkuman Suhbah Mawlana Shaykh Nazim

23hb Februari 2010

Ikan tidak akan pernah menjadi lebih besar dari Samudera

Assalamu’alaikum wr.wb.

A’udzu billahi min-asy syaitan-ir rajim.

Bismillah-ir Rahman-ir Rahim.

    • Mawlana berkata bahwa rahmat Allah yang kekal tercurah pada orang-orang yang menghadiri perkumpulan atau jema’ah (suhbah) ini untuk memperoleh pemahaman. Sementara orang-orang yang tidak mempunyai niatan seperti itu akan merugi. Hadiri dengan konsentrasi penuh, agar kita dapat pulang dalam keadaan ‘penuh’, setelah sampai di sini dalam keadaan ‘lapar’.
    • Mengenai suhbah tiap mala mini, Mawlana berkata, “Tuhannya Seluruh Langit telah memerintahkanku untuk berbicara!” Bagi orang-orang yang menyangkal bahwa hal ini mungkin, Mawlana berkata bahwa ketika seseorang ditanya pada Hari Pengadilan, tangan dan kakinya (seluruh organ tubuhnya) akan berbicara dan bersaksi atas perbuatan-perbuatan orang tersebut. Orang tersebut akan merasa kebingungan karena tubuhnya sendiri dapat berbuat seperti itu! Ketika ia menanyakan hal tersebut pada organ-organ tubuhnya, mereka akan berkata, “Allah Berfirman, dan kami telah diberikan kemampuan dari Allah untuk berbicara.” Allah memberikan kemampuan tersebut pada siapa saja yang Allah inginkan.
    • Mawlana menghimbau semua ‘ulama dan orang-orang terpelajar! Anggaplah kita telah mencapai puncak pemahaman kita. Mengapa menaruh batas bagi diri kita? Mengapa tidak ingin memperoleh pemahaman yang bahkan lebih mendalam, untuk mendaki ke atas tingkatan pemahaman yang telah kita raih? Tahukah bahwa dalam segala hal atau aspek, jumlah tingkatan pemahaman mengenai hal tersebut adalah TAK TERHINGGA? Jangan pernah membatasi diri kita pada pandangan sempit atau pada beberapa penjelasan atau interpretasi dari sebuah ayat
      Al-Qur’an atau hadis. Merupakan kebodohan terbesar untuk mengaku-ngaku bahwa kita telah mencapai pemahaman akhir yang lengkap mengenai hal apa pun. Dengan beranggapan begitu, kita telah membangun kesombongan, menolak pandangan-pandangan alternatif (selain itu), dan kita telah berhenti menambah pengetahuan kita.
    • Sebagai contoh, Mawlana mengutip sebuah hadis terkenal, dimana Rasulullah (saw) bersabda bahwa seseorang yang tidak menghormati ‘orang tua’ bukanlah tergolong umatnya. ‘Orang tua’ yang dimaksud dalam hadis ini bisa berarti orang yang benar-benar tua secara fisik, atau orang yang tua dalam spiritual (dengan kata lain, ia mungkin seorang pemuda, tetapi ia telah mem-peroleh pemahaman yang sangat dalam tentang agama; karena itu, ia disebut tua dalam spiritual). Ini hanya beberapa interpretasi dari hadis tersebut, tetapi Nabi Penghabisan (saw) memiliki keseluruh samudera interpretasi dari setiap hadis! Jadi, jangan bilang bahwa interpretasi suatu hadis terbatas jumlahnya. Pada kenyataannya, interpretasi dari suatu hadis oleh Rasulullah (saw) tiada batasnya. Oleh karena itu, kita harus selalu memperluas pandangan dan pemahaman kita. Jangan pernah menganggap bahwa interpretasi kita akan sebuah hadis adalah yang benar dan merupakan satu-satunya interpretasi yang ada. Interpretasi tersebut hanyalah bagaikan setetes air jika dibandingkan dengan samudera pemahaman yang sesungguhnya, yang terselubung dibalik kata-kata sakral dalam hadis tersebut. Setiap kali kita mencapai sebuah cakrawala (pemahaman), di atasnya ada cakrawala yang lain, dan ada cakrawala-cakrawala lain yang tak terhingga jumlahnya di atas cakrawala tersebut!
    • Jadi mohonlah pada Allah agar diberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam! Allah adalah Yang Maha Pemurah, yang tak habis-habisnya memberi. Jadi mengapa membatasi pemahaman kita jika kita bisa meminta agar Allah memberikan pemahaman yang lebih dalam dari yang sudah kita mengerti. Mintalah agar diberikan lebih dan lebih lagi, rendahkanlah diri kita dan mohonlah! Allah berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, “Mintalah, sayangku, mintalah lebih dan lebih, akan Aku kabulkan.”
    • Pemahaman adalah anugerah terbesar dari Allah. Tidak ada batas dalam pemahaman. Mawlana berkata bahwa pemahaman bukanlah sekedar sebuah danau kecil, pemahaman merupakan samudera tiada batas, yang tidak berpantai, tidak berdasar. Itu sebabnya Rasulullah (saw) bersabda, “Jika tingkat pemahamanmu hari ini tidak melebihi kemarin, maka hidupmu tidaklah berkah; kamu telah merugi; kamu telah menyia-nyiakan hidupmu.” Jadi kita harus meminta pemahaman yang lebih dan semakin dalam; kita harus belajar terus dan terus setiap harinya.
    • Jangan pernah sedetik pun mengira bahwa pemahaman hanya terdiri dari SATU samudera. Bukan! Pemahaman terdiri dari deretan samudera yang tiada habisnya. Setiap samudera menghantarkan kesenangan, kepuasan, cahaya-cahaya surgawi, dan kedamaian tersendiri – setiap hal yang diperoleh dari satu samudera berbeda dengan apa yang diperoleh dari samudera yang lain. Jadi mintalah, carilah dan berjuanglah terus untuk memperoleh pemahaman yang lebih dan lebih dalam. Kapasitas manusia untuk dapat menyerap dan beradaptasi dan memahami sangatlah menakjubkan; sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, manusia diberkati dengan kapasitas tersebut. Begitu kita merasakan dari samudera-samudera ini, kita tidak akan pernah berkata “cukup, cukup” – sebaliknya, kita akan menikmati berenang-renang dalam kerinduan akan pembukaan-pembukaan (atas rahasia-rahasia/hakikat ma’rifat), merasa mabuk dan puas, tidak pernah ingin meninggalkan samudera-samudera tersebut lagi. Mawlana berkata bahwa hal itu merupakan kenikmatan abadi, pemahaman tiada akhir, cahaya-cahaya tiada batas…
    • Jika kita pergi ke pantai, kita selalu ingin lebih dari sekedar bermain-main di tepian. Merasa tertarik dengan lautan yang menggoda, banyak dari kita berenang ke laut lepas, tertarik oleh tarikan yang tak tertahankan, untuk memberanikan diri berenang menjauhi perairan dangkal yang aman. Setelah sampai di laut lepas, di tengah-tengah ombak yang menggunung dan arus yang kuat, kita menyerah kelelahan dan akhirnya tenggelam. Itulah lautan dunia (keduniaan), dimana kita ditarik untuk semakin menjauh dari amannya pantai secara misterius, mencari kesenangan dunia, sampai kita musnah di dalamnya. Siapa pun yang ada di pantai, yang melihat tenggelamnya kawan-kawan mereka di lautan, harus mengambil pelajaran dari itu.
    • Samudera-samudera surgawi berbeda. Samudera-samudera tersebut juga menarik kita jauh dari pantai yang dangkal (jauh dari pemahaman yang dangkal) menuju laut lepas yang luas (dimana kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas dan lebih dalam daripada ketika kita berada di pantai). Tetapi tidak seperti di lautan dunia, kita selamat di sini, kita tidak akan pernah terancam tenggelam atau musnah. Sebaliknya, di setiap saat, kenikmatan, kepuasan dan kesenangan yang kita peroleh semakin bertambah.
    • Ketika kita menyelami samudera-samudera surgawi ini, kita bagaikan seekor ikan kecil, dan setiap harinya, ukuran kita bertambah besar seiring dengan banyaknya makanan (surgawi) yang kita peroleh dari samudera tersebut. Sebesar apa pun kita tumbuh, kita tidak akan pernah menjadi lebih besar dari samudera itu sendiri, dan kita akan pernah mampu menelan seluruh samudera. Mawlana berkata bahwa sangatlah banyak hal untuk dipelajari, dan kita akan merasa sangat bahagia di samudera tersebut.
    • A’udzu billahi min-asy syaitan-ir rajim… hindari pengetahuan syaitan, karena pengetahuan tersebut bukanlah pengetahuan yang sesungguhnya. Berkedok muslihat yang cerdik, pengetahuan tersebut nampak seperti pengetahuan yang benar, seperti halnya perairan dalam yang mengundang di samudera keduniaan, yang padanya ada batasan – yakni kematian. Tetapi orang-orang yang menghubungkan dirinya dengan makhluk-makhluk surgawi, dan menyelam ke dalam samudera-samudera surgawi (spiritual), akan memperoleh harta karun spiritual, yang mana tidak ada batasan padanya; ada hadiah-hadiah kenikmatan abadi yang tiada habisnya. Makhluk-makhluk surgawi yang kita cari ini tidak pernah menolak siapa pun, dan sekuat niat kita untuk mengisi kapasitas kita dalam samudera surgawi ini, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya dan meningkatkan kapasitas kita. Dan jika kita terus mencari dan mencari dalam samudera tersebut, Allah akan terus memperluas samudera-samudera tersebut juga, agar kita tidak akan pernah merasa bosan atau jenuh!
    • Hanya orang-orang yang sudah pernah berhubungan dengan makhluk-makhluk surgawi, dan telah merasakan kenikmatan semacam ini, yang mau menjelaskannya kepada yang lain, sebagaimana yang Mawlana lakukan. Kita sedang menempuh perjalanan cinta. Bahkan jika orang yang kita cintai berada di Timur dan kita berada di Barat, selalu ada cara untuk mendekat pada yang kita cintai itu, karena hati kita selalu dapat berhubungan dengan hati orang yang kita cintai, ketika ada cinta.
    • Ini adalah malam-malam Suci dari bulan Rabiul Awal, dimana kita menghormati Rasulullah (saw). Mawlana menasehati kita semua untuk berdoa pada Allah, agar Dia membukakan pada kita samudera Bismillah-ir Rahmaan-ir Rahiim. Tersembunyi dalam frase ini adalah samudera-samudera yang tiada habisnya, yang diawali dari keempat sungai di surge (jannah) dan bersumber di dalamnya. (Dikisahkan bahwa pada Malam Mi’raj, Rasulullah (saw) menemukan empat sungai muncul dari bismillah… Beliau melihat sungai berisi air mengalir dari mulutnya huruf ‘mim’ pada kata bismillah, sebuah sungai susu dari matanya huruf ‘haa’ pada kata Allah, sebuah sungai anggur dari mulut huruf ‘mim’ pada kata Rahman, dan sebuah sungai madu dari mulut ‘mim’ pada kata Rahiim. Ini diambil dari buku yang ditulis oleh Hajjah Amina Adil, yang berjudul Muhammad, The Messenger of Islam, His Life and Prophecy). Mawlana berkata bahwa beliau mendengar dari beberapa wali, bahwa siapa pun yang ingin mendengar suara dari keempat aliran sungai ini caranya sangatlah sederhana, tutup kedua telinga mereka dengan kedua telapak tangan membentuk cangkir. Hanya para munafik yang tidak dapat mendengar suara ini.
    • Mawlana berkata bahwa sebagaimana para dokter menghidupkan kembali jantung yang telah mati dengan menggunakan alat pacu jantung dan obat-obatan jantung, suhbah semacam ini juga menghidupkan hati yang mati dan sakit, agar kembali ‘hidup’, terjaga dari mabuk dunia dan kelalaian.

      Al-Fatiha.


      This entry was posted in 2010 @id, Februari, Suhbah @id. Bookmark the permalink.