Bersyukurlah karena Kita tercipta sebagai Manusia: 14hb Disember 2009

Rangkuman Suhbah Mawlana Shaykh Nazim

14hb Disember 2009

Bersyukurlah karena Kita tercipta sebagai Manusia

  • Manusia dalam BENTUK YANG TERBAIK, sebagaimana dinyatakan dalam surah Tiin. Seorang manusia yang lebih pendek dari 1.5 m atau lebih tinggi dari 2 m akan nampak aneh, sebagaimana pula manusia berkaki empat atau wanita bersayap. Jadi, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, dengan proporsi tubuh yang paling sempurna dan dalam derajat yang paling tinggi.

  • Mengesampingkan semua ini, manusia disibukkan dengan mencoba melebihi binatang (makhluk terendah) dalam pencapaian mereka. Mawlana mengutip sebuah contoh yakni seorang atlit angkat berat yang berlatih bertahun-tahun untuk memenangkan medali emas dalam sebuah kejuaraan. Mawlana berkata bahwa seekor keledai bahkan lebih pantas untuk mendapatkan medali emas, karena si keledai dapat mengangkat beban yang beratnya dua kali lebih besar daripada yang diangkat si atlit; dan tidak seperti manusia, lutut keledai tidak gemetar dan membengkok karena mengangkut beban seberat itu, dan si keledai itu masih mampu untuk berjalan dengan enaknya sejauh bermil-mil dengan beban tersebut (dibandingkan dengan atlit angkat berat, yang bahkan sangat susah untuk dapat melangkah ketika sedang mengangkat beban seberat itu).

  • Allah telah menawarkan tanggung jawab (amanah) pada seluruh ciptaan-Nya, tetapi tidak satu pun yang mau menerima tawaran tersebut; bahkan gunung-gunung pun tunduk dan gemetar dan memohon ampun ketika mereka ditawarkan Amanah tersebut. Hanyalah manusia yang menerima tawaran tersebut. Mawlana berkata bahwa Allah menawarkan Amanah tersebut kepada ciptaan-Nya yang mampu memenuhinya.

  • Karena itu, manusia telah diciptakan di puncaknya penciptaan; merekalah yang memiliki BENTUK YANG TERBAIK dan DERAJAT YANG TERTINGGI. Mengapa manusia selalu tidak bersyukur dan SELALU MENGELUH? Kita harusnya bersyukur karena kita diciptakan sebagai Bani Adam, bukan sebagai seekor keledai atau seekor semut. Allah bias saja menciptakan kita sebagai makhluk yang lain, tetapi sebaliknya, Allah memberikan kita hadiah yang sangat berharga dan kekal ini, yakni menjadi anak-anak Adam. Katakan Alhamdulillah!

  • Mawlana bertanya apakah yang disebut-sebut sebagai ‘ulama Salafi mengetahui apa Amanah tersebut? Beliau mengatakan bahwa Amanah tersebut merupakan pengetahuan yang harus dicari, karena tidak semua orang yang menghadiri suatu kajian belajar dari pengajian tersebut. Untuk mengajarkan rahasia-rahasia semacam itu pada orang-orang arogan dan tidak tulus akan seperti mengalungkan batu-batu berharga di leher seekor keledai – si keledai tidak akan nampak lebih terhormat karena kalungnya, dan kalungnya pun tidak akan bertambah keindahan dan kehormatannya karena dipakai oleh si keledai.

  • Mawlana berbicara tentang cara berpakaian seseorang yang kita atributkan pada derajat atau status orang tersebut; kita cenderung menilai seseorang berdasarkan cara dia berpakaian. Beliau mengisahkan sebuah cerita tentang Sultan Timur, seorang raja hebat yang memerintah wilayah Asia Tengah sampai ke perbatasan Eropa. Raja tersebut sedang di pemandian Turki bersama Mullah Nasruddin, yang merupakan seorang wali yang menyampaikan ajarannya dengan membuat lelucon yang membuat orang-orang berpikir.

  • Sultan Timur, yang waktu itu hanya mengenakan sarung mandinya, bertanya pada Mullah, “Jika aku adalah seorang budak, dan kamu akan membawaku ke pasar budak, berapakah yang akan kamu dapatkan jika kamu menjualku?” Mullah menjawab, “Sepuluh dirham.” (Itu adalah jumlah yang amat kecil, dan dirham adalah koin perak).

  • Si Sultan membalas, “Wahai Mullah, sarungku saja sudah berharga sepuluh dirham!” Hal ini membuat Mullah menjawab, “Itulah sebabnya aku bilang bahwa aku bias saja menjualmu seharga sepuluh dirham, karena sesungguhnya mereka akan membayar sepuluh dirham untuk sarungmu – KAMU sama sekali tidak berharga.”

  • Jadi moral dari cerita lucu ini adalah bahwa kita menilai seseorang berdasarkan pakaiannya dan orang-orang menghabiskan banyak uang hanya untuk pakaian dan perhiasan, karena mereka percaya bahwa kehormatan dan status mereka diperoleh dari pakaian dan perhiasan yang mereka kenakan. Manusia tidak menyadari bahwa kehormatan dan status diperoleh dari pengetahuan, ketaatan dan keyakinan, bukan dari pakaian.

  • Mawlana mengakhiri suhbahnya dengan mengingatkan kita semua untuk tidak menunda-nunda dalam melaksanakan shalat, dengan kata lain untuk shalat segera setelah azan dikumandangkan. Beliau mengatakan bahwa setelah melaksanakan shalat, maka carilah rejekimu.

    Fatihah.


    This entry was posted in 2009 @id, Disember. Bookmark the permalink.